artikel-internet

Tuesday, September 28, 2004

Wajah netter Indonesia

Inilah Wajah Netter Indonesia Profil pengguna internet di Indonesia
Hendrika Yunapritta, R. Cipto Wahyana
Seperti diduga, separo lebih pengguna internet mengakses dari warung internet (warnet). Kendati kebanyakan netter Indonesia tidak berbelanja, apa salahnya investasi untuk 10 tahun ke depan?
Umur dunia maya di Indonesia memang belum melewati satu dasawarsa. Istilah cyber pun sepertinya baru belakangan akrab terdengar di kuping para netter. Namun, kesibukan dan bisnis yang berkaitan dengan internet bisa dipastikan kian bertambah. Coba saja hitung jumlah warnet yang bermunculan bak cendawan di musim hujan. Belum lagi perusahaan-perusahaan dotcom yang tiba-tiba saja menjadi daftar panjang di tangan kita. Meski dunia cyber sudah dijelajah habis, ternyata di Indonesia belum ada riset dan data tentang pengguna internet lokal. Padahal, selayaknya pasar di dunia nyata, internet pun telah menjadi peluang yang menggiurkan. Ungkapan seperti investasi lokal, keuntungan global bukan menjadi opini gombal belaka. Memang seperti itulah kenyataannya. Tak heran kalau banyak investor ramai-ramai terjun ke dalam internet berharap bisa mengikuti sukses Bill Gates. Begitu pula di Indonesia. Kendati daftar perusahaan dotcom sudah panjang, rupanya masih banyak investor yang ragu-ragu masuk ke pasar dotcom. Penyebabnya, ya itu tadi, belum ada riset dan data pengguna internet lokal. "Selama ini kita tidak tahu bagaimana profil pengguna internet di Indonesia, juga kondisi industri internet di sini," kata peneliti Pacific Rekan Prima, Ihsanuddin Usman. Ketidakjelasan ini telah membuat para investor menahan langkah untuk berinvestasi. Itu sebabnya, Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) memprakarsai sebuah survei untuk melukiskan seperti apa wajah pengguna internet Indonesia. Adalah Pacifi Rekan Prima dan McKensey&Company yang digandeng untuk melaksanakan survei tersebut. Mereka berharap bisa memotret dengan jelas seperti apa kecenderungan industri dotcom di Indonesia. Tentu saja juga harapan mereka terhadap pelaku bisnis yang meramaikan dunia maya. Karena belum ada angka yang tepat untuk menggambarkan populasi netter Indonesia, metode yang digunakan adalah metode convenience. Sejumlah 1.500 responden yang dilibatkan adalah mereka yang menjelajah dunia maya secara aktif. Usianya beragam, antara 15 tahun hingga 55 tahun. Ada 10 kota yang dilibatkan, kendati porsi terbesar sekitar 20% responden diambil dari Jakarta. Kota-kota lainnya, antara lain Yogyakarta, Balikpapan, Bandung, Makassar, dan Medan.
Ingin web site porno dikurangi
Sebagian besar responden (40%) telah menjelajahi dunia maya selama dua tahun lebih. Namun, ada 1% yang baru sebulan berpengalaman surfing. Kurang dari separo netter mengakses internet untuk kepentingan bisnis. Hal tersebut sepertinya menjawab temuan berikutnya bahwa ternyata akses internet terbesar (42%) dilakukan di warnet. Beda tipis dengan akses internet lewat kantor (41%). Tak heran kalau akses internet sebagian besar dilakukan pada hari kerja: 74%. Layaknya jam-jam kerja yang sibuk di dunia nyata, mengakses alam cyber pun ada jam sibuknya. Sekitar 33,5% responden menjelajah sekitar pukul 12.00-17.00. Meski toko-toko dotcom seperti berkibar-kibar, ternyata ada 12,6% responden yang belum tahu bahwa dia bisa melakukan transaksi lewat internet. Lagi pula, hanya 16,6% dari seluruh responden yang pernah melakukan transaksi online. Alasan mengapa para netter ini tidak melakukan transaksi, karena mereka tidak yakin dengan kualitas barang yang ditawarkan, takut kartu kreditnya disalahgunakan, dan sebagian lagi memang tidak memiliki kartu kredit. Sebagian besar responden (79%) ternyata tidak berlangganan jasa lewat Internet Service Provider (ISP), tapi 77% menjawab bahwa suatu saat mereka berminat berlangganan sendiri. Yang cukup melegakan, para responden sepakat bahwa dunia maya adalah gudang informasi yang tidak terbatas, termasuk peluang dan informasi bisnis. Di masa mendatang, para netter Indonesia ingin supaya keamanan dan perlindungan terhadap pribadi-pribadi penjelajah internet bisa ditingkatkan. Mereka juga minta supaya situs porno dikurangi saja, dan informasi yang mendidik dan penghormatan terhadap Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) harus ditambah. Selain itu, tentu saja, mereka menginginkan agar beban biaya akses dan pulsa diturunkan. Selain menyurvei, para periset ini juga menjaring pendapat dari diskusi para pengusaha dotcom dan praktisi, misalnya kalangan perbankan yang online. Mereka berpendapat bahwa netter tidak pernah melihat iklan online, terutama iklan yang tidak atraktif. Banner juga dinilai terlalu mengobral kata dan produk iklan tidak disesuaikan dengan pengunjung situs bersangkutan. Ini semua membuat penetrasi iklan online di Indonesia sangat lambat. Nah, temuan soal iklan dotcom yang kurang peminat ini ditanggapi dingin oleh Klikduit.com. "Pengiklan harus kreatif," ujar Wibowo Gunawan, CEO Klikduit.com. Misalnya dengan cara membayar siapa pun yang mengklik iklan, seperti yang dilakukan Klikduit. Maklum, iklan online punya kelebihan gambarnya bisa interaktif dan dihargai bukan dari ongkos cetak tapi jumlah orang yang mengklik.
http://www.kontan-online.com/05/11/internet/int1.htm

gambar tentang jihad

http://www.sak.a.se/AfghanK/AfghanK.nsf/62c4b4142f19ad04c12567ee003874a2/ad7f978f43a24f80c1256981004c733e/$FILE/Jihad%20omslag.liten.jpg">

Monday, September 27, 2004

Cracker kena jerat hukum

Cracker : Sebab Akibat dan Kepastian Hukum
oleh : Donny B.U. *
Masih ingat kisah cracker Dani Firmansyah? Dani yang merupakan konsultan Teknologi Informasi (TI) PT Danareksa di Jakarta, pada 17 April lalu berhasil membobol situs (cracking) milik Komisi Pemilihan Umum (KPU) di http://tnp.kpu.go.id dan mengubah nama-nama partai di dalamnya menjadi nama-nama "unik", semisal Partai Kolor Ijo, Partai Mbah Jambon, Partai Jambu, dan sebagainya. Tak lama berselang, pada 22 April, Dani yang juga masih terdaftar sebagai mahasiswa semester 10 di fakultas Fisipol Universitas Mumammadiyah Yogya tersebut, berhasil dicokok oleh Satuan Cyber Crime Polda Metro Jaya. Kemudian pada 18 Juni, kasusnya dinyatakan telah sudah selesai di-BAP-kan dan telah diserahkan ke pihak pengadilan.
Pihak aparat kepolisian, yang dibantu oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) dan dikabarkan turut pula dibantu oleh mantan anggota komunitas maya underground Indonesia, memang selayaknya mendapatkan acungan jempol lantaran berhasil melakukan serangkaian investigasi yang kental dengan dunia teknologi informasi (TI). Sebutlah semisal melakukan analisa log server dan melakukan social engineering di sebuah chatroom. Aparat Kepolisian pun mencoba mengganjar Dani dengan ancaman hukuman yang berat, yaitu penjara selama-lamanya enam tahun dan / atau denda sebesar paling banyak Rp 600 juta rupiah. Hal tersebut berdasarkan Undang-undang (UU) no. 36 / 1999 tentang Telekomunikasi, khususnya pasal 22 butir a, b, c, pasal 38 dan pasal 50.
Jika kita mengacu pada klausul sebab-akibat, maka apa yang akan dihadapi Dani memang merupakan buah dari perbuatannya sendiri. Sebab dia "melakukan cracking", berakibat dirinya "diproses hukum". Simpel saja tampaknya. Tetapi jika kita memang mau konsisten dengan klausul sebab-akibat tersebut, maka kita harus paham pula bahwa perbuatannya tersebut notabene juga merupakan akibat dari suatu sebab yang telah ada sebelumnya. Maka pertanyaan yang selayaknya diajukan adalah, "ada sebab apa, yang berakibat pada berhasilnya aktifitas cracking ke situs KPU".
Motivasi
Menurut beberapa hasil pengamatan dan riset kami dari ICT Watch atas komunitas maya underground Indonesia, ada beberapa hal yang dapat menjadi sebab atas terjadinya suatu aktifitas cracking. Keempat hal tersebut kami istilahkan sebagai 3M + M2, yaitu Motivasi, Mekanisme, Momen + Miskonsepsi (Masyarakat dan Media-massa)".
Motivasi adalah adanya rangsangan yang berupa faktor pengaruh peer group, baik yang internal ataupun eksternal. Yang internal adalah, adanya motivasi dari dalam komunitas atau kelompok, seperti ajakan, hasutan ataupun pujian antar sesama rekan. Sedangkan yang eksternal, adalah motivasi yang berupa semangat bersaing antar kelompok, keinginan untuk menjadi terkenal, dan motivasi hacktivisme. Hacktivisme ini adalah suatu reaksi yang dilatar-belakangi oleh semangat para hacker ataupun cracker untuk melakukan protes terhadap suatu kondisi politik / sosial negaranya.
Tetapi jangan lupa, ada salah satu motivasi lain yang juga sifatnya eksternal, yaitu adanya semacam tantangan ataupun kepongahan dari pihak tertentu atas jaminan keamanan suatu sisten komputer. Hal tersebut dapat membangkitkan adrenalin rasa keingintahuan seorang cracker, yang memang sudah merupakan ciri khas yang inheren dalam komunitas maya underground. Lalu mekanisme yang dimaksud adalah terdapatnya server ataupun website yang lemah mekanisme pertahanannya lantaran tidak dilakukan update atau patched secara rutin dan menyeluruh. Hal tersebut sama saja dengan membuka "pintu belakang" seluas-luasnya, seolah memberikan kesempatan bagi para cracker untuk melakukan aksi deface mereka.
Hal tersebut juga didukung dengan tersedianya mekanisme sekunder yang berfungsi untuk mendeteksi kelemahan suatu sistem di Internet, yaitu berupa berbagai exploit software, yang tersedia di Internet dan dapat dengan mudah digunakan oleh para cracker yang tingkat pemula sekalipun.
Sedangkan momen di sini mengacu pada adanya suatu isu yang tengah menjadi sorotan masyarakat luas, sehingga cracker ketika menjalankan aksinya akan menumpang pada isu tersebut dengan tujuan agar aktifitas deface dapat turut terekspos dengan luas. Contohnya, yaitu pada tahun 2002 lalu ketika aktifitas deface sempat memanas, lantaran para cracker menumpang pada isu memanasnya hubungan diplomatik antara Indonesia dengan Australia.
Kemudian miskonsepsi atas keberadaan cracker dan akfititasnya di tengah masyarakat dan acapkali dipertegas oleh media massa, kerap dimanfaatkan oleh para cracker untuk menjadi terkenal atau memperkenalkan kelompoknya. Misalnya, memposisikan cracker sebagai tokoh yang heroik dan secara gegabah mempercaya klaim mereka bahwa aktifitas deface yang mereka lakukan dilandasai oleh faktor hacktivisme ataupun nasionalisme, merupakan sebuah miskonsepsi yang secara umum terjadi di tengah-tengah kita.
Sebab Akibat
Kalau ditengok dari Momen dan Miskonsepsi, tampaknya kedua faktor tersebut memang sudah "given" dari sono-nya. Momen Pemilihan Umum (Pemilu) 2004 memang merupakan sebuah perhelatan bangsa yang menyedot perhatian dari seluruh masyarakat Indonesia, sehingga memang pantaslah jika menjadi "tumpangan" para cracker ketika melakukan aksinya. Pun demikian dengan Miskonsepsi, yang merupakan faktor dengan kondisi "salah kaprah" di Indonesia. Tidak terlalu banyak yang bisa kita perbuat untuk meminimalisir terjadinya aksi deface, dengan mengutak-atik kedua faktor di atas. Tetapi untuk dua faktor lainnya, yaitu Motivasi dan Mekanisme, tampaknya "andil" KPU turut memiliki faktor yang kuat untuk memancing terjadinya aksi deface tersebut.
Menurut yang disampaikan oleh Dani, seperti dikutip oleh berbagai media massa nasional, motivasi pembobolan situs KPU itu sendiri adalah untuk mengetes sistem keamanan server penghitungan suara KPU. Masih menurut dia, kemampuan dirinya merasa tertantang setelah mendengar pernyataan Ketua Kelompok Kerja Teknologi Informasi KPU Chusnul Mar'iyah di sebuah tayangan televisi yang mengatakan bahwa sistem TI Pemilu yang bernilai Rp152 miliar, sangat aman dan tidak bisa tertembus hacker. Memang, faktanya beberapa pernyataan dari KPU berkaitan dengan sistem TI Pemilu tersebut kerap dikritik oleh beberapa pengamat, lantaran cenderung bernada over PD, alias percaya diri.
Dani kemudian menjajal sistem keamanan sistem TI Pemilu, dan ternyata dia menemukan suatu kelemahan di dalam sebuah server website dengan alamat http://tnp.kpu.go.id. Rupanya KPU lalai untuk melakukan update atau patched atas sistem di alamat tersebut. Adanya mekanisme yang "bolong" tersebutlah yang dimanfaatkan oleh Dani, dengan menggunakan teknik lawas diantranya berupa SQL Injection. SQL Injection itu sendiri, pada dasarnya teknik tersebut adalah dengan cara mengetikkan string atau command tertentu pada address bar di browser yang biasa kita gunakan. Address bar adalah tempat kita biasa mengetikkan nama suatu alamat website atau URL (uniform resource locator). Dengan demikian tampaknya Dani tidak perlu harus sampai masuk ke dalam server tersebut guna mengubah data atau tampilan pada website tersebut, tetapi cukup dengan cara "merogoh-rogoh" dari luarnya saja.
Dengan melihat dari hal di atas, maka sekali lagi, kalau kita memang ingin konsisten dengan klausul sebab-akibat, maka mungkin memang sudah semestinya Dani menanggung akibat dari yang disebabkannya. Tetapi kita pun harus memahami secara utuh, bahwa apa yang dilakukan Dani, sejatinya merupakan suatu akibat dari keberadaan sebab 3M + M2 di atas, termasuk keberadaan andil KPU itu sendiri di dalamnya. Rasanya memang agak kurang tepat apabila terdapat kasus cracking terhadap situs milik masyarakat atau didanai oleh uang masyarakat, pengelolanya kemudian buru-buru mengasosiasikan dirinya sebagai "pemilik rumah" yang menjadi korban, dan menyerahkan seluruh tanggung-jawab kepada si cracker.
Padahal sudah jelas, sejatinya pihak "pemilik rumah" tersebut adalah masyarakat, yang kemudian memberikan tanggung-jawab kepada pihak pengelola untuk mengurusnya. Dengan demikian, korban yang sesungguhnya pada kasus di atas adalah justru masyarakat itu sendiri, dan tanggung-jawab seyogyanya ditanggung-renteng bersama oleh si cracker dan si pengelola, tentunya dengan porsi dan kapasitas masing-masing.
Kepastian Hukum
Pertanyaan berikutnya adalah, "apakah seorang cracker dapat dikenakan sanksi hukum berdasarkan undang-undang (UU) di Indonesia". Menurut pendapat dan masukan dari tim ahli hukum ICT Watch, cracker memang bisa dituntut dengan menggunakan beberapa hukum yang ada. Misalnya yang telah dilakukan oleh aparat kepolisian seperti telah disampaikan pada bagian atas tulisan ini, yaitu menggunakan UU no. 36 / 1999 tentang Telekomunikasi. Sebenarnya masih ada hukum lain yang bisa dikenakan pada seorang cracker, seperti UU no. 19 / 2002 tentang Hak Cipta. Hukum tersebut bisa saja digunakan, karena tindakan yang dilakukan oleh cracker adalah melakukan pengubahan tampilan situs (karya cipta) tanpa izin pada pemilik ciptaan tersebut Kemudian cracker bisa pula dihadapkan pada UU Hukum Pidana, khususnya pada ketentuan mengenai "perbuatan yang meresahkan masyarakat".
Namun kemudian permasalahan yang timbul adalah, sejauh mana hukum yang ada dapat membuktikan kesalahan yang dilakukan oleh cracker tersebut. Dalam berbagai kasus pelanggaran ataupun kejahatan yang berbasis TI, barang bukti yang kerap diajukan adalah berbentuk data atau informasi elektronik, semisal log server, log percakapan di chatroom, tampilan situs yang terkena deface, e-mail, dan sebagainya. Faktanya, hukum di Indonesia belum mengakui bukti elektronik sebagai sebuah alat bukti pelanggaran atau kejahatan di hadapan pengadilan. Dengan demikian, penuntutan hukum kepada seorang cracker adalah satu hal, sedangkan pembuktian kesalahannya adalah hal lain.
Cara yang mungkin akan ditempuh oleh pihak kepolisian dan kejaksaan untuk "mensahkan" bukti elektronik tersebut di hadapan pengadilan adalah dengan adalah dengan cara memproses bukti elektronik tersebut hingga didapatkan hasil akhir dari sebuah sistem komputer. Logiknya adalah sederhana, yaitu input-process-output. Maka bukti elektronik tersebut dapat diubah perwujudannya dalam bentuk hardcopy, di-print misalnya, tanpa adanya modifikasi apapun dari manusia. Lalu untuk memperkuatnya, hardcopy tersebut bisa diserahkan kepada saksi ahli untuk dianalisa dan disampaikan tingkat akurasi dan kesahihannya di hadapan pengadilan. Tentu saja ini hal ini tidak mudah, karena pemahaman yang cukup tentang TI oleh para hakim, jaksa dan polisi untuk menganalisa barang bukti tersebut, mutlak diperlukan.
Selain itu, dengan rantai proses pembuktian yang relatif cukup panjang tersebut, bisa saja terdapat celah kelemahan yang dapat menggugurkan barang bukti yang ada. Jadi, proses persidangan Dani yang akan segera digelar, dapat menjadi wahana pembelajaran bagi kita bersama. Salah satunya adalah untuk menjawab pertanyaan "sejauh mana hukum dan aparat penegak hukum kita dapat mengatasi kejahatan berbasis TI".
*) Penulis adalah Koordinator ICT Watch. Dapat dihubungi melalui e-mail donnybu@ictwatch.com. Tulisan ini pernah dimuat oleh majalah Warta Ekonomi, edisi No.15, tahun XVI, 28 Juli 2004. Tulisan ini bebas dikutip asal menyebutkan sumbernya.
http://www.ictwatch.com/paper/paper061.htm


Darkside of the WArnet

Darkside of the Warnet
oleh : Donny B.U. *
Sebagaimana fungsi restoran padang, tulisan yang tengah Anda baca ini memang tidak untuk menyuguhkan menu makanan sehari-hari yang biasa disantap di rumah. Anda perlu sesekali ke restoran Padang, agar lidah tidak menjadi kebal rasa dengan menu rumahan yang itu-itu saja. Tetapi hati-hati, lantaran cenderung pedas, bagi yang tidak biasa mengunyah makanan Padang akan sakit perut. Jadi berhati-hati pulalah dalam membaca tulisan ini. Apa yang Anda percaya selama ini tentang Internet yang sering disampaikan dalam berbagai seminar dan media massa, akan terdekonstruksi sedemikian rupa.
Internet kerap disampaikan dan dipercaya memiliki khasiat antibiotik untuk mengatasi berbagai problem sosio-kultur masyarakat kita. Tanpa kita sadari, kita terlalu percaya dan terlalu banyak menelan antibiotik tersebut, sehingga alih-alih menyembuhkan, Internet malah menimbulkan efek samping yang celakanya kerap kita percaya sebagai konsekuensi logis yang harus diterima. Berikut ini akan saya sampaikan beberapa dampak negatif dari Internet secara nyata, khususnya pada sektor warung internet (warnet). Bukan untuk dihindari dan disangkal, tetapi untuk direnungkan dicari jalan keluarnya.
Pornografi
Suatu sore, saya meluangkan waktu untuk beranjangsana ke rumah sahabat saya, di daerah pemukiman padat menengah-bawah, Pangkalan Jati Kalimalang, Jakarta Timur. Tak jauh dari rumah sahabat saya tersebut, berjarak sekitar 3-4 rumah, terdapat sebuah warnet. Jangan dibayangkan warnet tersebut sekelas dengan yang ada di mal-mal seantero Jakarta, atau yang terletak di kampus-kampus. Warnet ini hanya sepetak 5x5 meter, dengan 4 komputer alakadarnya yang tersambung dengan akses Internet dial-up, serta dibatasi oleh sekat triplek. Ngobrol ngalur-ngidul, menjelang tengah malam teman saya bercerita.
Beberapa kali warnet di dekat rumahnya tersebut disambangi anak-anak SMP. Anak-anak bau kencur tersebut patungan untuk menyewa sebuah komputer, dan tak berapa lama kemudian mereka asyik cekikian membuka-buka situs porno di layar monitor. Luar biasa, pikir saya. Anak-anak seusia mereka telah tahu manfaat gotong-royong dan kerjasama, untuk………… pornografi. Masih ada lagi yang menarik, cetus teman saya. Beberapa kali ada pengunjung yang sudah cukup remaja, membayar biaya sewa Internet, tetapi tidak melakukan aktifitas Internet sama sekali, entah itu browsing, chatting maupun e-mail. Usut punya usut, ternyata mereka hanya menggunakan komputer di warnet tersebut untuk menonton VCD porno yang telah mereka sewa sebelumnya!
Jangan terlalu heran. Kondisi di atas sangat jamak kita temui di warnet-warnet. Pangkal masalahnya adalah karena warnet selama ini dipropagandakan oleh para pandai Internet sebagai jembatan kesenjangan informasi antara pemilik informasi dengan yang tidak memiliki informasi. Informasi apa? Sejauh mana para pandai Internet tersebut mengetahui informasi apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh suatu masyarakat tertentu? Hal tersebut sudah tidak lagi jadi soal penting. Kini para pemilik modal akan membangun warnet hanya sebagai profit center. Profit yang hanya berdasarkan pada jumlah nominal uang yang masuk ke meja kasir. Warnet tidak diposisikan sebagai sentra informasi setara dengan perpustakaan konvensional, yang harus dikawal, dijaga dan dirawat oleh seorang kuncen sumber pengetahuan, alias pustakawan.
Acap kali "pustakawan" Internet, kalaupun layak disebut sebagai pustakawan, tak lebih hanyalah seorang lulusan sekolah menengah dengan gaji alakadarnya dan sekedar bertugas menerima uang dari penyewa. Asalkan uang masuk kas lancar, pemilik warnet takkan peduli jasa Internet mereka digunakan untuk apa oleh penyewanya, termasuk untuk pornografi sekalipun. Menurut riset ACNielsen Indonesia pada Oktober 2002, secara signifikan terjadi pergeseran tempat mengakses Internet di masyarakat Indonesia. Jika pada tahun 2000 warnet merupakan tempat favorit bagi 50% pengguna Internet, maka pada 2004 nanti akan meningkat menjadi 64%.
Yang menarik adalah jika kita coba berkaca pada penelitian UCLA pada November 2001 tentang dampak Internet bagi masyarakat, terbukti bahwa pengguna Internet mengurangi waktu menonton TV mereka untuk mengakses Internet, tetapi tidak mengurangi waktu bersama keluarga. Fakta tersebut hanya berlaku di Amerika yang pesawat TV bukan lagi merupakan barang mewah. Tetapi jika kita tarik dalam sosio-kultur masyarakat Indonesia, khususnya di pemukiman yang berpenghasilan menengah ke bawah, maka TV masih termasuk barang mewah dan tidak semua rumah tangga saja memilikinya. Berarti "waktu nonton TV" para anak-anak dan remaja di daerah tersebut kemungkinan berupa "waktu beribadah", "waktu belajar" atau "waktu bekerja tambahan".
Jika saja Internet "dipaksa-kenalkan" kepada mereka dan mereka diminta untuk menggunakan Internet dengan alasan yang bearagam oleh para pandai Internet, maka "waktu" mana yang sekiranya akan dikurangi? Apakah waktu ber-Internet bisa menggantikan peran dan fungsi waktu belajar, waktu beribadah atau waktu bekerja tambahan? Bagaimana kalau ternyata "waktu ber-Internet" diidentikkan oleh mereka sebagai "waktu berpornografi".
Cybercrime
Oh ya, bukan hanya pornografi saja yang bersarang di warnet. Cybercrime pun tumbuh subur di Indonesia antara lain karena keberadaan warnet. Hal tersebut bukan isapan jempol, karena menurut hasil riset perusahaan e-sekuriti ClearCommerce.com yang berkantor di Texas, Indonesia dinyatakan berada di urutan kedua negara asal pelaku cyberfraud (kejahatan kartu kredit via Internet), setelah Ukraina. Ditambahkan pula bahwa sekitar 20 persen dari total transaksi kartu kredit dari Indonesia di Internet adalah fraud. Riset tersebut mensurvey 1137 toko online, 6 juta transaksi, 40 ribu customer, dimulai pada pertengahan tahun 2000 hingga akhir 2001. Saya tidak terlalu heran dengan hasil riset tersebut.
Saya pernah melakukan penelitian terhadap beberapa kasus cybercrime di Indonesia, dan rata-rata pelakunya menggunakan warnet. Masih sangat jarang warnet yang meminta dan mencatat kartu tanda pengenal dari pengunjungnya, sebelum transaksi sewa-menyewa dilakukan. Alasan keengganan yang saya dapat dari sejumlah anggota mailing-list komunitas warnet ketika saya melemparkan ide pencatatan kartu tanda pengenal tersebut, adalah lantaran mereka tidak mau menambah beban kerja administratif penjaga warnet. Selain itu mereka takut para pelanggan pada kabur ke warnet saingan, karena merasa direpotkan dengan urusan pencatatan identitas diri tersebut. Warnet-warnet yang seperti inilah yang menjadi sarang yang nyaman bagi para pelaku cybercrime. Karena identitas mereka akan tetap tersembunyi, di balik kepentingan profit warnet semata.
Pada kali kesempatan lain, saya berkunjung ke sebuah warnet milik salah seorang teman saya. Warnet tersebut terletak di bilangan Rawamangun, Jakarta Timur. Kali ini warnet tersebut tergolong cukup canggih. Terdiri atas bangunan dua lantai, dengan 20-an komputer di dalamnya. Selain menyewakan Internet, dengan akses 24 jam dari Kabel Vision, warnet tersebut juga berfungsi sebagai game center. Parahnya, penjaga warnet tersebut ternyata juga merangkap bandar, penadah dan penyalur barang-barang haram hasil carding. Carding merupakan aktifitas berbelanja segala macam barang di Internet, menggunakan nomor dan identitas kartu kredit bajakan.
Di lantai dua warnet tersebut terdapat sebuah ruangan tertutup tempat istirahat para penjaga warnet tersebut. Ketika saya diajak masuk kedalam ruangan tersebut oleh teman saya, tentunya dengan seijin pemilik warnet, maka saya seolah berada dalam sebuah butik mahal di Plaza Senayan. Dari jam tangan sampai notebook, dari kaus bola sampai PDA, yang tentunya semua bermerek luar negeri, berserakan di lantai berkarpet biru gelap. Semuanya for sale, semuanya discount up to 75%, semuanya brand new, dan semuanya barang ilegal.
Mengapa warnet menjadi tempat favorit untuk aktifitas semacam pornografi dan cybercrime? Karena seperti telah saya sampaikan sebelumnya. Para pandai Internet terlalu bersemangat mempropagandakan peran positif Internet dan warnet, sehingga mereka lalai mengkaji dampak negatif dan solusi pencegahannya. Kalaupun mereka ternyata tidak lalai, bisa jadi mereka enggan untuk menyampaikan kepada masyarakat. George Bernard Shaw, seorang filsuf dan budayawan kondang asal Inggris yang pernah mendapatkan Nobel Karya Sastra pada tahun 1925, suatu ketika menyatakan bahwa apapun profesi yang ada, para anggotanya melakukan konspirasi untuk melindungi profesi mereka agar tidak menjadi setara dengan orang kebanyakan.
Konspirasi tersebut, disadari ataupun tidak, kerap dilakukan pula oleh para pandai Internet kita. Salah satunya adalah dengan "menyembunyikan" dampak negatif Internet dan warnet. Jika mereka sampai menyampaikan hal buruk tentang Internet dan warnet kepada masyarakat, maka mereka akan dihadapkan pada kondisi yang tidak nyaman, dari sekedar penyangkalan dari sesama pandai Internet, hingga dianggap tidak melakukan keberpihakan terhadap perkembangan Internet dan warnet.
Belum lama berselang, saya melakukan oto-kritik terhadap komunitas pandai Internet Indonesia yang tergabung dalam sebuah mailing-list. Saya lontarkan wacana tentang adanya "sekte" Internet, yang tanpa disadari menjadi sedemikian eksklusifnya sehingga ketika berbicara di depan masyarakat, para anggota "sekte" tersebut kerap membawa hingga memaksakan nilai-nilai kebenaran berdasarkan kepercayaan kolektif "sekte" tersebut.
Tentu saja yang saya sampaikan tersebut bukan sekte dalam artian sebenarnya, seperti sekte Ku Klux Clan dan sejenisnya, tetapi sekedar gambaran eksklusifitas cara berpikir dan cara pandang para komunitas Internet Indonesia. Penyangkalan, itulah hal yang saya terima dari sebagian anggota mailing-list tersebut, sedang lainnya lebih memilih no comment. Memang hal tersebut sudah saya perkirakan sebelumnya. Maklum, sudah menjadi hakikat manusia untuk melakukan penyangkalan sebagai respon pertama mereka ketika dihadapkan pada sesuatu yang bertolak-belakang dengan kepercayaan yang mereka anut selama ini.
Software Siluman
Oh ya, ada hal lain yang ingin saya sampaikan kepada Anda berkaitan dengan kebiasaan menggunakan akses Internet di warnet. Jangan sembarangan Anda memilih warnet untuk tempat anda beraktifitas di Internet. Kalaupun Anda sudah memiliki tempat kepercayaan, jangan sembarangan mengetikkan aneka password, entah password e-banking maupun password e-mail, pada keyboard di warnet tersebut. Tanpa Anda sadari, Anda beresiko menjadi korban software siluman. Apa lagi itu? Konsep mudahnya, data apapun yang Anda ketikkan melalui keyboard, dapat disadap oleh siapa pun tanpa Anda ketahui.
Hal tersebut dimungkinkan dengan merebaknya software semacam Spyware atau Key Logger, yang dengan cepat dan mudah dapat didownload dan diinstal di komputer-komputer warnet oleh siapapun sebelumnya. Jika Anda menggunakan komputer yang telah terinfeksi oleh software siluman tersebut, maka setiap huruf yang anda ketik dan tampilan setiap situs yang anda buka secara diam-diam akan terkirim ke suatu alamat e-mail yang telah dipersiapkan sebelumnya oleh pemasang software siluman tersebut. Yang memasang software tersebut bisa jadi para penyewa sebelumnya yang memang berniat jahil atau jahat. Sialnya, software tersebut tidak mudah dilacak keberadaannya oleh penjaga warnet dengan kemampuan dan pengetahuan pas-pasan.
Dalam suatu mailing-list cracker (black hacker) Indonesia, saya acapkali menerima beberapa posting dari orang yang mendeklarasikan keberhasilan mereka memasang software siluman di sebuah warnet tertentu. Mereka bercerita pula bahwa tiap hari mereka rutin menerima e-mail otomatis dari software yang mereka pasang, berisi data-data yang sangat "menarik". Saya penasaran, seberapa mudah sebenarnya memasang software tersebut. Beberapa bulan lalu, di suatu kesempatan, saya menyewa Internet di sebuah warnet di bilangan Cikini - Jakarta Selatan. Saya cari nama sejenis software tersebut di sebuah search engine, dan dalam sekejap di layar monitor muncul sekian puluh (bahkan sekian ratus) nama software siluman dengan fungsi serupa.
Kemudian saya pilih salah satu, saya download dan saya instal. Kemudian saya tinggal mengatur ulang software tersebut, misalnya proses apa saja yang mau saya "intip" di layar monitor tersebut (browsing, chatting, ketikkan keyboard, screen capture tayangan di layar monitor, dan sebagainya) alamat e-mail tujuan pengiriman dan frekuensi pengiriman data hasil "intipan" tersebut (bisa di-set per 1 jam, per 6 jam, per 12 jam, dan seterusnya).
Mudah juga ternyata, tepatnya mudah dan menyenangkan! Waktu yang saya butuhkan tidak lebih dari 30 menit, terhitung dari awal proses pendownloadan hingga software siluman tersebut siap "mengintip" dan mengirimkan data setiap aktifitas dan transaksi yang dijalankan di komputer tersebut ke e-mail pribadi saya. Keesokan paginya e-mail saya dibanjiri e-mail berisi, you know, data hasil "intipan" aktifitas penyewa Internet yang menggunakan komputer tersebut. Tapi untungnya, (saay tidak tahu, saiap yang diuntungkan sebenarnya), saya tidak, mungkin belum saja, tertarik untuk meneruskan aktifitas ala siluman tersebut.
Saya bukan jenis siluman jahil, dan saya takut kena e-karma. Sebab siapa tahu di komputer tersebut telah bercokol software siluman jenis lain sebelumnya, yang saya tidak tahu keberadaannya dan siapa pemasangnya. Jadi saat saya membaca e-mail di Yahoo! Dan memeriksa saldo rekening saya di suatu situs e-banking Indonesia, bisa jadi seluruh password saya akan terekam dan terkirim otomatis ke para siluman yang jahil. Sore harinya, saya kembali ke warnet tersebut dan menghapus software siluman tersebut.
Saya tidak menganjurkan Anda untuk menjadi warnet-phobia. Karena selain saya belum pernah membaca ada satu studi klinis tentang phobia tersebut, Anda bisa dianggap mengada-ada oleh para pandai Internet. Saya hanya ingin mengutip ujaran Bang Napi di SCTV, "Kejahatan itu selain didasari niat, juga ditunjang oleh kesempatan, maka waspadalah!" Kalau Anda adalah tipe orang yang gemar berwaspada, atau orang yang tidak merasakan "pedasnya" tulisan ini, maka silakan kunjungi situs http://www.natnit.net, karena di situs tersebut dapat Anda temui sekian ratus alamat warnet seantero Jakarta. Selamat bersiluman, eh, ber-Internet……….
*) Penulis adalah Koordinator ICT Watch dan jurnalis TI independen. Dapat dihubungi melalui e-mail donnybu@ictwatch.com. Tulisan ini pernah dimuat oleh majalah Djakarta!, Juli 2003. Tulisan ini bebas dikutip asal menyebutkan sumbernya.
Taken from: http://www.ictwatch.com/paper/paper044.htm

Sunday, September 26, 2004

Internet sebagai media dakwah islami

"Internet Sebagai Media Dakwah Islami"
oleh: Donny B.U., M.Si. *
"Sampaikanlah, walau hanya satu ayat," demikian ditegaskan oleh Nabi Muhammad SAW kepada umatnya suatu ketika. Ujaran yang sangat terkenal tersebut berintikan ajakan kepada para penganut agama Islam untuk senantiasa menyempatkan diri untuk berdakwah dan berbagi pengetahuan bagi sesama, kapanpun dan dimanapun. Sebelum Rasullulah wafat pada tahun 632 M, dakwah kerap dilakukan secara lisan. Baru pada tahun 644 M ketika Islam dipimpin oleh Uthman bin Affan, sahabat Rasulullah dan khalifah ketiga, dakwah mulai dilakukan secara tertulis. Pada saat itu Al-Qur'an sebagai kita suci Islam mulai dibukukan, digandakan dan disebarluaskan ke imperium-imperium Islam di penjuru dunia.
Semangat dakwah tersebut, meskipun hanya satu ayat, merupakan satu bentuk "tanggung jawab moril" yang sangat mengakar di kalangan umat Islam. Segala daya dan upaya untuk melakukan dakwah terus dilakukan, hingga kini.Setelah beratus tahun berselang sejak dakwah lisan dikumandangkan oleh Rasulullah, pada masa kini dakwah telah menggunakan medium bit, binary dan digital. Dakwah dalam bentuk tulisan di buku mendapatkan komplementernya berupa text dan hypertext di Internet.
Meskipun jumlahnya masih sangat sedikit, kalangan umat Islam di Indonesia yang menggunakan Internet sebagai media dakwah jumlahnya kian hari kian bertambah. Total jumlah pengguna Internet di Indonesia saja terhitung baru sekitar 2 persen saja dari total penduduk Indonesia. Tetapi semangat berdakwah "walau hanya satu ayat" tersebut tidak mengurungkan niat para pelaku dakwah digital.
Fenomena dakwah digital tersebut memang berkembang seiring dengan berkembangnya teknologi informasi (TI) di dunia. Internet komersial baru masuk ke Indonesia pada tahun 1994, dengan dibukanya IndoNet di Jakarta, sebagai Internet Service Provider (ISP) pertama di Indonesia. Salah satu pelopor penggunaan Internet sebagai media dakwah adalah seperti yang dilakukan oleh kelompok Jaringan Informasi Islam (JII). JII yang dibidani oleh jebolan Pusat Teknologi Tepat Guna (Pustena) Masjid Salman ITB tersebut sudah sejak sekitar tahun 1997-1998 bergulat dengan teknologi e-mail yang diaplikasikan ke dalam pesantren-pesantren, membentuk apa yang disebut dengan Jaringan Pondok Pesantren.
Kemudian pada sekitar tahun 1998-1999 mulai marak aneka mailing-list (milis) Indonesia bernuansa Islami semisal Isnet, Al Islam dan Padan Mbulan. Baru kemudian pada tahun 1999-2000 bermunculanlah situs-situs Islam di Indonesia, yang tidak sekedar situs-situs institusi Islam, tetapi berisi aneka informasi dan fasilitas yang memang dibutuhkan oleh umat Islam. Maka lengkaplah Internet menjadi salah satu media rujukan dan media dakwah Islam Indonesia.
Masuknya Internet dalam aspek kehidupan umat Islam mulai menggeser pemikiran-pemikiran lama. Menjadi santri kini tidak harus diidentikkan dengan sarung dan mengaji di langgar saja. Sekedar contoh, para santri Pesantren Darunnajah di Ulujami Jakarta Selatan ternyata telah akrab dengan e-mail karena di dalam pesantren tersebut ada sebuah warnet yang dipergunakan bergantian antara santri pria dan wanita. Ada pula pesantren Annida di Bekasi, yang memang telah benar-benar memberikan materi pendidikan e-mail dan Internet kepada para santri-santrinya.
Dengan bermodalkan sepuluh komputer yang terkoneksi ke Internet, maka setiap hari selalu diberikan materi-materi Internet secara bergiliran. Menggunakan Internet pun bisa dianggap sebagai suatu ibadah. Masjid At-Tin di komplek Taman Mini misalnya, di dalamnya terdapat sebuah warnet dengan 10 buah komputer. Administrasi warnet tersebut berada di bawah Bidang Dakwah dan Pendidikan Yayasan At-Tin, sebagai pengelola Masjid tersebut.
Dengan semakin beragamnya aplikasi Internet sebagai media dakwah, kini ada sebutan santri virtual, yang dicetuskan oleh situs PesantrenVirtual.com. Para santri virtual tersebut dapat saling berdakwah menggunakan milis pesantren@yahoogroups.com. Milis yang awal didirikan pada Agustus 1999 hanya beranggotakan 41 orang, kini telah mencapai lebih dari 2300 anggota. Kekuatan milis sebagai media dakwah memang bukan hal yang sepele. Jika kita mengetikkan keyword "Islam" di YahooGroups.com, maka akan didapat 2254 milis yang membahas soal Islam dari berbagai bahasa dan negara. Bahkan kini tafsir Al-Qur'an dalam bahasa Indonesia versi Departemen Agama pun dapat disimak di milis Tafsir-Quran@yahoogroups.com yang didirikan pada Agustus 2000 dan telah memiliki anggota sebanyak 1144 orang.
Kebutuhan akan aktualisasi diri sebagai seorang muslim ternyata sama pentingnya dengan dakwah itu sendiri. Buktinya, pengguna webmail MyQuran.com tercatat lebih dari 40 ribu anggota. Sebagian dari para anggota tersebut juga aktif di forum diskusi online di situs tersebut. Situs MyQuran.com yang didirikan pada Juli 1999 merupakan situs portal informasi Islam. Jika merindu akan suara adzan dari Mekkah, maka MyQuran.com memiliki link yang dapat mengumandangkan adzan tersebut. Bahkan dapat juga diniikmati alunan pembacaan kitab suci Al-Qur'an lengkap 114 surah.
Di dalam hukum Islam masih ada yang memerlukan interpretasi dan pengkajian para ahli. Hal tersebut misalnya pada penentuan halal atau tidaknya produk atau pangan yang berada di pasaran. Dengan teknologi Internet, kini informasi kehalalan suatu produk atau pangan dapat ditanyakan langsung ke ahlinya melalui situs IndoHalal.com. Pengelola situs yang didirikan sejak Februari 2001 tersebut telah memberikan jawaban atas 178 pertanyaan yang masuk. Beberapa pertanyaan tersebut antara lain tentang Kecap ABC, Bika Ambon, Susu Pediasure, Khong Guan Biscuit dan Restoran Hoka Hoka Bento.
Dari beberapa contoh aplikasi Internet di atas, maka dapat ditarik satu pemahaman umum bahwa Internet memang merupakan media yang efektif bagi dakwah dan penyebaran informasi. Meskipun demikian Internet tidak akan bisa menggantian perang ulama, kiai dan ustadz. Demikian ditegaskan oleh Onno W. Purbo, praktisi Internet yang kerap memberikan dakwah Internet ke pesatren-pesantren. Menurut Onno, Internet hanyalah sebuah media komunikasi. "Justru seorang pendakwah dapat dengan mudah memiliki jutaan umat saat mereka menggunakan Internet," ujar Onno.
Sedangkan Ahmad Najib Burhani, pengamat Islam yang kerap menulis tentang teknologi dan agama, menyatakan bahwa Internet memungkinkan setiap orang untuk bertanggung-jawab secara individu, termasuk soal agama. "Tetapi yang menjadi pertanyaan lebih lanjut adalah apakah Internet bisa menjadi tempat yang tepat untuk suatu proses penjelajahan kehidupan beragama yang penuh makna," ujar Najib. Menurut Najib, mengutip Steven Walman pendiri BeliefNet, Internet bisa menjadi alternatif media ketika seseorang sangat disibukkan dengan aktifitas kesehariannya sehinga tidak dapat mengikut acara keagamaan yang memerlukan kehadiran fisik.

Beberapa Situs Dakwah
- MyQuran.com
MyQuran.com merupakan situs portal Islam yang memiliki banyak link dan sumber informasi tentang segala aspek kehidupan umat Islam. Situs tersebut dilengkapi pula dengan fasilitas pencarian ayat-ayat Al-Qur'an dan Hadist. Informasi tentang kelima rukun Islam pun tersedia. Disediakan pula fasilitas forum diskusi online, chatroom dan webmail. Salah satu keunggulan MyQuran.com adalah terdapat link untuk mendengarkan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an dan suara adzan versi Mekkah dan Madinnah.
Menurut Atmonadi, pendiri dan pemilik MyQuran.com, tujuan membuat situs tersebut adalah untuk meningkatkan daya saing umat Islam agar bisa lebih memberdayakan Internet baik untuk kepentingan dakwah islamiyah, persaudaraan, pertukaran informasi dan pengetahuan, pendidikan dan meningkatkan kesejahteraan dengan melakukan aktifitas ekonomi digital.
Situs MyQuran.com diluncurkan pada Juli 1999, setelah sebelumnya Atmonadi kepayahan mencari situs-situs komunitas Islam ala Indonesia yang komprehensif. Modal awal pendirian situs tersebut hanyalah sebuah nama domain senilai US$ 70. "Tetapi modal yang terbesar adalah niat," ujar Atmonadi. Hosting dan fasilitas MyQuran.com bisa didapatkannya secara murah di Internet. Demografi pengunjungnya kebanyakan berusia 17 - 30 tahun dari manca negara. Yang terbesar adalah dari Indonesia (27 %) dandari USA (2.5%), malaysia (1.5 %). sisanya 69 % dari berbagi negara.
Dari data terakhir di September 2001, rata-rata terdapat sekitar 2381 unique visitor perhari, 9341 pageviews perhari dan hitrate perhari mencapai lebih dari 71 ribu hit. Situs tersebut diasuh bersama-sama oleh para sukarelawan yang merupakan pengunjung setia. Atmonadi yakin bahwa umat Islam bisa secara positif memanfaatkan Internet sebagai media dakwah, ukhuwah (pergaulan), pendidikan dan pendistribusian informasi. Bahkan jika komunitas tradisional Islam dapat memanfaatkan Internet sebagai media dakwah, maka Atmonadi yakin bahwa umat Islam di Indonesia akan semakin dapat meningkatkan pengetahuan dan wawasannya. "Sekarang tinggal bagaimana para praktisi Internet dapat mengenalkan Internet secara benar kepada komunitas tradisional tersebut," ujar dia.
-Ukhuwah.or.id
Ukhuwah.or.id merupakan situs yang berangkat dari kebutuhan komunikasi internal mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer UI. Setelah mengalami serangkaian pengembangan dan pembenahan, baru pada Februari 2000 situs Ukhuwah.or.id dapat dinikmati oleh masyarakat umum. Di dalam situs tersebut terdapat serangkaian link berita-berita terkini, dan fasilitas download file MP3 Nasyid Islami. Ukhuwah.or.id merupakan situs yang menyajikan informasi-informasi Islam yang baik dikumpulkan dari berbagai sumber.
Menurut Herry, salah seorang pengurus Ukhuwah.or.id, situs tersebut diharapkan mampu memberikan penyadaran bagi umat Islam tentang pentingnya pemanfaatan TI sekaligus menjadi wadah berkumpul dan berkomunikasinya umat Islam. Modal awal pembuatan situs tersebut adalah hasil swadaya dan sumbangan dari masing-masing anggota. Sebagian besar pengakses situs tersebut adalah mahasiswa dan para aktivis dakwah Islam yang menggunakan internet baik melalui kampus, warnet atau rumah.
Pengunjung situs tersebut per hari adalah sekitar 450 orang, dengan page views sekitar 1600 pages per hari dan hit rate sekitar 13 ribu hits perhari. Saat ini tim operasional terdiri dari kurang lebih 35 orang sukarelawan tanpa digaji. Kesediaan menjadi sukarelawan tersebut, menurut Herry, adalah karena berpatokan bahwa situs Ukhuwah.or.id memiliki nilai dakwah yang tinggi sekaligus sebagai penyebaran informasi tentang dunia Islam. Dalam penyebaran informasi tentang Islam tersebut. Ukhuwah.or.id melakukan dalam 2 cara yaitu sebagai sumber informasi dan sebagai sarana komunikasi. Sebagai sumber informasi terdapat fasilitas berita, artikel dan majalah Islam online. Sedangkan sebagai sarana komunikasi disediakan fasilitas pertukaran informasi seperti webmail dan milis.
Menurut Herry, Internet sangatlah efektif dan efisien sebagai sebuah media dakwah. Internet merupakan sarana komunikasi global dimana seluruh umat Islam di dunia dapat mengaksesnya dengan cukup mudah dan murah dibandingkan dengan media komunikasi lainnya. Selain itu, melalui sebuah situs di Internet, informasi tentang Islam dari suatu negara tertentu dapat segera diketahui oleh umat Islam di belahan bumi lain.
- MoslemWorld.co.id
Situs MoslemWorld.co.id merupakan sebuah situs berita sebagaiamana layaknya sebuah media berita online. Berita-berita yang ditampilkan di halaman depan situs tersebut selalu diupdate secara berkala. Menurut Mokh. Syaiful Bakhri, Redaktur Pelaksana MoslemWorld.co.id, situs tersebut diharapkan dapat menjadi referensi utama bukan hanya bagi umat Islam semata, namun juga bagi umat agama lain yang ingin belajar dan mendalami ajaran-ajaran Islam. Secara spesifik dijelaskan oleh Syaiful bahwa situs MoslemWorld.co.id juga mengemban misi dakwah, kebudayaan, peradaban, ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama umat Islam), ukhuwah Insaniyah (persaudaraan sesama manusia) dan ukhuwah Wathoniah (persaudaraan dengan bangsa lain).
MoslemWorld.co.id didirikan pada Oktober 2000 oleh Ratiza Busiri bekerjasama dengan Dunia Muslim dari British Virgin Islands dan Safe-T-Net System Pte. Ltd dari Singapura. Beberapa kanal yang disediakan oleh situs tersebut antara lain informasi tentang komunitas, pendidikan, teknologi, bisnis dan berita internasional. Sedangkan topik-topik Islam yang disajikan adalah kajian Islam, tokoh Islam, peradaban, nuansa muslimah dan sejarah Islam. Untuk page views MoslemWorld.co.id pada bulan Agustus 2001 lebih dari 10 ribu pages perbulan.
Saat ini MoslemWorld.co.id ditangani oleh tim multimedia yang terdiri dari creativewriter, editor, web design dan web developer. Kompensasi yang diberikan kepada tim disesuaikan dengan standard profesional. Mengingat portal MoslemWorld.co.id di update setiap hari selama tiga kali yaitu pada jam 09.30, 11.30 dan 15.30, maka sistem kerjanya tak ubahnya dengan sistem kerja pada media massa lainnya. Tim bekerja secara penuh mulai dari jam 09.00 hingga jam 17.00.
Direncanakan situs tersebut akan bekerja sama dengan berbagai pihak di negara lain seperti Brunei dan Malaysia untuk membuat portal yang sama sehingga nantinyaMoslemWorld.co.id mengglobal dan menjadi portalnya umat Islam minimal di Asia Tenggara. Selain itu, kehadiran portal tersebut diharapkan dapat membantu Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam penyebaran informasi, regulasi, pendidikan dan dakwah.
- IndoHalal.com
IndoHalal.com merupakan sebuah situs konsultasi status kehalalan produk-produk yang ada di pasaran. Tujuan situs tersebut, menurut Jaja Triharja selaku salah satu pendiri IndoHalal.com, adalah untuk mensosialisasikan pentingnya produk halal kepada masyarakat luas, mendorong semakin banyak produsen untuk mendapatkan sertifikat halal melalui lembaga Auditor dan inspektor yang ada serta menjadi mitra untuk mempermudah masyarakat dalam memperoleh berbagai jenis produk halal.
IndoHalal.com didirikan pada Februari 2001 yang merupakan sebuah divisi di bawah perusahaan Haltek Integra Media yang bergerak di bidang TI serta sebagai pengelola ISP INDOSATnet Bogor. Rencana kedepan, situs tersebut akan dilepas dari perusahaan induk dan menjadi perseroan yang sahamnya akan dijual kepada publik. IndoHalal.com tengah dikembangkan menjadi sebuah situs B2B dan B2C sehingga diharapkan nantinya dapat bekerjasama dengan masyarakat untuk membuat semacam toko swalayan serba halal. IndoHalal.com juga menjalin kerjasama dengan milis halal-baik-enak@yahoogroups.com.
Fasilitas unggulan yang disediakan IndoHalal.com saat ini adalah konsultasiproduk halal yang diasuh langsung oleh Dewan Pakar dari ahli pangan IPByaitu Anton Apriyantono. Selain itu tersedia pula disajikan pula berbagai artikelsebagai bahan edukasi halal ke masyarakat dan database daftar produkhalal yang up-to-date. Produk halal tersebut didukung oleh LP POM MUI. Pengunjung rata-rata perharinya aalah sebanyak 200 pengunjung. Tim operasional terdiri dari redaksi 3 orang, webmaster 1 orang, dewan pakar 2 orang dan marketing 1 orang. Sebagian besar mendapat gaji dari perusahaan, dan sebagian lagi kompensasinya tidak berupa gaji.
Menurut Jaja, apa yang dilakukan oleh IndoHalal.com merupakan salah satu bentuk dakwah yang dilakukan melalui Internet. Konsepnya dengan menyebaran informasi tentang halal ini secara meluas dan terus menerus dengan berbagai metoda kepada masyarakat. Bagi umat Islam kalangan menengah ke atas, peran Internet cukup efektif sebagai media dakwah dan informasi.

*) Penulis adalah Koordinator ICT Watch dan jurnalis TI independen. Dapat dihubungi melalui e-mail donnybu@ictwatch.com. Tulisan ini merupakan bagian dari laporan khusus Detikcom, 28 September 2001. Tulisan ini bebas dikutip asal menyebutkan sumbernya.

Taken from: http://www.ictwatch.com/paper/paper020.htm